November 2014

Nov 24, 2014

Setiap akhir pekan pada bulan November 2014 ini, Frau berpentas. Minggu pertama, di pembukaan pameran “Memoar Tanah Runcuk” karya Timoteus Anggawan Kusno (Kedai Kebun Forum Yogyakarta). Minggu kedua, di Indonesian Netaudio Festival #2 (IFI Bandung). Minggu ketiga, di Ngayogjazz (Desa Wisata Brayut, Sleman). Minggu keempat, di AntroFest, penutupan rangkaian Dies Natalis Jurusan Antropologi Budaya UGM (FIB UGM, Yogyakarta).

Melewati minggu ketiga, saya mulai merasa perlu berefleksi atas pengalaman-pengalaman ‘lama’ yang selalu ‘terbarui’ ini. Di minggu pertama, selain pentas dan turut serta dalam ‘peristiwa pembukaan pameran’ Centre of Tanah Runcuk Studies, saya bersama Oskar juga berkolaborasi dengan Gardika Gigih Pradipta dan rekan-rekan dari band Jalan Pulang. Kami memainkan tiga lagu dari masing-masing kolaborator: “Apa Daya” (Jalan Pulang), “Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa” (Frau), dan “I’ll Take You Home” – “Tenggelam” (Gigih). Pengalaman ini mengasyikkan, tak hanya karena saya merasakan kembali gereget panggung setelah setahun vakum, tapi juga sebab saya berkesempatan untuk berproses bersama musisi lain (pengalaman yang jarang sekali saya lalui).

Di minggu berikutnya, selain berjumpa dengan sahabat-sahabat lama, saya juga berkenalan dengan teman-teman baru dari kalangan musik independen (kebanyakan berkiblat pada industri musik digital juga), menghadiri diskusi mengenai musik digital yang menarik (namun seharusnya bisa berkembang lebih jauh dari situ), dan menonton pertunjukan-pertunjukan yang menggairahkan. Bandung selalu meninggalkan cerita dan kesan yang menyenangkan untuk saya; kali ini menyangkut tukang ojek, apartemen, dan jam malam di ruang publik. Hehe.. Lihat foto-foto pementasan Frau, oleh Shutter Breaker di link ini.

Minggu ketiga—baru saja saya lalui—meninggalkan kesan sangat menyenangkan di pikiran dan hati saya. Saya yang tadinya takut pentas di Ngayogjazz (karena merasa jauh dari genre jazz), bisa malik merasa nyaman dan bahagia untuk bisa menjadi bagian dari festival yang menyenangkan ini, setelah menonton beberapa pementas sebelum saya dan berkeliling menyusuri desa. Beberapa highlight yang saya catat dari pementasan ini: Huaton Dixie, Miyoshi Masato Duo, Mezcal Jazz Unit, Dewa Budjana, dan Syaharani (serta ESQI:EF). Walaupun listrik di desa wisata Brayut mati sepanjang malam, hadirin (yang beribu-ribu jumlahnya) tampak tak terlalu terganggu. Saya bangga bisa jadi bagian dari Ngayogjazz tahun ini.

Semoga pengalaman pentas di minggu keempat nanti ini menambah cerita-cerita menyenangkan untuk menutup bulan kedua sebelum penghujung tahun 2014 ini. Saya hanya bisa berusaha agar ‘semoga’ ini terwujud. 🙂