Sementara ini, 2015 sungguh bersahabat bagi saya dan Oskar. Januari penuh dengan pementasan-pementasan menyenangkan! Pertama-tama, di Lombok Calling #1, liburan berkedok gigs (hehehe), saya bisa reuni dengan mas Rachmat Tri Wibowo, gitaris Southern Beach Terror sekaligus orang yang berjasa memperkenalkan saya pada skena musik independen Jogja (kalau bukan karenanya, mungkin Frau tak akan pernah muncul!). Di situ saya berkenalan dengan banyak sosok yang menginspirasi, dari keterbukaan mereka dalam menerima kami sebagai tamu, dalam menangkap informasi yang mungkin tak selalu seturut pola-pola yang mereka pahami tentang dunia ini, dalam menafsirkan kehidupan mereka pada umumnya. Refleksi sudah sepantasnya muncul dari pertemuan saya dengan orang-orang ini: setelah pada awalnya tergelitik, kemudian menyerapnya, dan lantas mencoba menerapkannya kepada kehidupan saya yang belum tentu sejalan dengan mereka. Terlalu menarik dan menyenangkan! Kemudian Januari dilanjut dengan acara-acara dari LPDP dan pentas dalam acara Pameran Bokcinta di Kampung Bustaman, Semarang. Kesempatan pentas di sebuah kampung sempit dalam kota merupakan pengalaman yang membuat pikiran bergidik. Teman-teman Kolektif Hysteria memang mempunyai semangat dan drive yang sangat kuat dalam pergerakan mereka bersama komunitas-komunitas dalam kota. Semoga semangat dan drive ini senantiasa menyala dalam geliatnya nanti. 🙂

Februari datang dan pergi dengan membawa senyuman pula. Tanggal 14, kami bersama Nirmana Records meluncurkan kembali album Starlit Carousel dalam bentuk piringan hitam dan buku partitur. Rangkaian pesta peluncuran record label ini sekaligus rilisan ini berjalan dengan lancar, walau kami sempat dilanda waswas karena Jogja sore itu dihujam hujan lebat lengkap dengan angin besarnya. Saya bangga dan bahagia sekali bisa menjadi bagian dari keluarga Nirmana Records: merilis ulang Starlit Carousel dalam dua bentuk baru ini sangat bikin jejingkrakan. Kini orang bisa menikmati lagu Frau (dari album itu) lewat mp3, CD, piringan hitam, dan buku partitur! Selanjutnya, pada akhir pekan berikutnya, tim Frau berangkat ke Bandung untuk pentas di LouBelle Shop dalam acara An Intimacy vol.6. Di situ, teman-teman penyelenggara memiliki cita-cita luhur untuk merevitalisasi sekaligus regenerasi skena musisi independen Bandung. Saya salut dengan inisiatif ini, terutama karena saya sendiri haus mencari kesegaran materi baru dari musisi-musisi Indonesia generasi berikutnya. Di kesempatan ini, saya berkesempatan menonton Munthe, Strangers, dan Bedchamber yang memukau. Untuk melihat foto-foto dari acara ini, cek: http://shutterbeater.com/2015/02/25/frau-at-an-intimacy-vol-6/. Pada Jumat selanjutnya, kami berkunjung ke Balikpapan untuk pentas di Raung Senja, sebuah sub-acara dalam Balikpapan Fair. Saya dapat kesempatan yang sangat berharga untuk berkolaborasi dengan Rara Sekar dan Ananda Badudu dari Bandaneira serta Gardika Gigih Pradipta, dalam tiga lagu: Tenggelam (Gardika Gigih P), Rindu (Bandaneira), dan Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa. Jika tertarik melihat rendisi kami atas Rindu, teman-teman bisa mengaksesnya di sini: http://www.sorgemagz.com/?p=5619. Semoga suka!

Maret hitungannya baru dimulai, tapi sudah sangat mengesankan pula. Teman-teman Forum Musik Fisipol beserta sahabat-sahabat saya di Sorak Productions menyelenggarakan Berandasvara, sebuah rangkaian pertunjukan musik yang intim, dengan output perekaman video serta audio yang layak. Pada kesempatan pertamanya ini, saya dan Jalan Pulang menjadi pementasnya. Lokasi cantik yang dipilih: Tempuran Hills di Kaliurang. Sungguh, saya terpesona melihat keseluruhan tata panggung serta lampunya (ditata oleh mas Banjarrow yang legendaris dan mas Gading Paksi yang lincah). Ditambah lagi, jumlah penonton yang datang dibatasi pada jumlah 30 orang saja, memungkinkan agar kami dapat menikmati suasana intim (dan singup) dengan lebih khusyuk. Mudah-mudahan sebelum bulan Maret ini berakhir, teman-teman lain yang tak berkesempatan datang dapat segera dibagikan link untuk melihat pertunjukan kami.

Selanjutnya, Frau berencana pentas lagi di Lelagu #14, pada tanggal 27 Maret 2015. Di situ saya akan menampilkan setidaknya 3 lagu baru, merespon gambar-gambar dari mbak Restu Ratnaningtyas. Semoga teman-teman bisa hadir untuk berbagi kuping mendengar karya baru ini, dan memberi respon kalian terhadapnya. Sementara itu, saya terus mengantisipasi agar hari-hari ke depan di 2015 yang akan semakin menantang dan menarik! Semoga kalian juga! 🙂