22 Mei 2009
MusicBox Records
Lembaga Indonesia Perancis, Yogyakarta

 

Artistic Team:
Jamaluddin Latief
Teguh Hari
Timoteus Anggawan Kusno

 

Featuring:
Bengkel Mime

 

Artistic Director:
Andy Seno Aji

 

Documentation by:
Agitprop

Totally Awesome! itulah ungkapan tepat setelah ngeliat Frau jadi lakon dalam pementasan A Girl On The Run di Auditorium LIP (Lembaga Indonesia Perancis) Jumat (22/5) lalu. Di acara itu Frau nggak cuma menarik karena permainan pianonya, tapi visualisasi teatrikal yang disuguhkan untuk merespon musik Frau juga memberikan konstribusi cukup besar. Sehingga A Girl on The Run betul-betul jadi ruang ekspresi dari ide yang sangat menarik sekaligus unik.

Dan sangat wajar jika akhirnya banyak penonton yang nggak bisa melihat pertunjukan malam itu karena kehabisan tiket. ‘’Penontonnya emang heboh, padahal pertunjukan udah dibagi dua sesi, pukul 19.00-20.00 dan 20.30 ampe 21.30, tapi tetep aja banyak yang nggak kebagian tiket,’’ ujar Karla Sekar Arum di bagian tiketing.

Malam itu penonton yang ada di dalam auditorium LIP betul-betul tersihir dengan permainan piano dan lantunan vocal Frau didukung aksi teatrikal Bengkel Mime.

Dibuka dengan Marry me, audiens langsung bisa mengukur seberapa besar kapasitas kemampuan dan skill Frau yang emang top banget. Dentingan piano khas Frau ngebuat audiens bermain merry go round dan benar-benar larut di dalamnya. Tanpa banyak bicara, Frau langsung memanjakan telinga penonton dengan mesin penenun hujan dan rat&cat.

Kolaborasi musik, aksi teatrikal dari Bengkel Mime Theatre serta sound efek sampling membuat kedua lagu itu bener-bener idup dan nggak monoton.

Malam itu Frau juga berkolaborasi ama kibordisnya Risky Summerbee and The Honeythief yaitu Nadya Octaria Hatta. Lagu I’m a sir dan oskar yang sederhana itu jadi begitu cerdas dengan sentuhan outro lagu yang memberikan kejutan bagi penonton malam itu.

Di penghujung acara, Frau atau Leilani Hermiasih tak segan untuk berkolaborasi ama ibunya, Joan Suyenaga. Sementara sang anak main piano, Joan pun asyik menggesek rebab. Intensiti, intimetely yang diusung ibu dan anak itu menjadi ending yang pas.

Dukungan setting panggung malam itu juga nggak kalah dahsyat, sehingga tak satupun penonton yang beranjak sebelum betul-betul sadar bahwa pertunjukan udah usai.

Lagu-lagu yang disuguhkan Frau dari awal ampe akhir membuat audiens dibawa kembali ke masa kecil dan nemuin maenan favorit. Sehingga bisa dibayangin, gimana senengnya? Sebenarnya semua lagu itu udah terangkum dalam album Starlit Carousel-nya. Lagu–lagu milik Frau itu betul-betul punya karakter dan ngebawa ke suasana yang beda. Sehingga nggak bakal banyak didapetin dari musisi Indonesia lainnya.

“Puas banget rasanya bisa dateng di acara ini. Soalnya selain disuguhin aksi musik, kita juga benar-benar dihibur ama aksi teatrikal, ampe tadi di dua sesi acara aku ngikutin semuanya,” papar Didi Auridani salah satu penonton malem itu. (why/fer)

(Copied from Radar Jogja’s review.)