29-30 OKTOBER 2015
KONGSI JAHAT SYNDICATE
GEDUNG SOCIETET
TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA


Poster Artwork by:
Rukmunal Hakim


Lighting Director:
Banjar Tri Andaru


Supported by:
Picca Video Works

Seberapa sering kita benar-benar mengalami musik? Saya sendiri, akhir-akhir ini, sejujurnya, tidak terlalu sering. Beberapa pengalaman pentas memang terkadang memuaskan hasrat bermusik, tapi ternyata ada pula kesempatan-kesempatan di luar itu yang justru lebih membekas dalam ingatan musikal saya. Sepanjang perjalanan-perjalanan pulang naik sepeda motor ‘membelah’ kota Yogyakarta, seringkali saya menyanyikan lagu “Rejazz” dari Regina Spektor atau “Bring Him Home” ala Jean Valjean dalam drama musikal Les Misérables dengan iringan full orchestra dalam kepala saya. Sepoi angin yang menyentuh wajah dan bibir, sengatan-sengatan bau yang kadang busuk dari sampah dan kadang wangi dari masakan warung pinggir jalan, temaram lampu kuning yang sesekali mati-hidup di beberapa sudut kota; entah kenapa, tapi semua elemen ini membangun suasana paling lengkap untuk menikmati lagu-lagu tersebut sebagai penutup hari yang panjang.

Dalam satu pengalaman lain, pada suatu malam yang biasa saja empat tahun lalu, saya menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Saya tidak tahu sama sekali apa yang ia nyanyikan di situ, tapi sembari tiduran di atas kasur, air mata turun deras terus-menerus. Tanpa sesenggukan, saya tetap bisa mendengarkan seluruh iringan musik dan intonasi Feist. Terasalah air mata asin yang mau tak mau mampir ke mulut, pegas-pegas springbed lawas saya yang menopang tubuh, dan lagi-lagi, sepoi angin, kali ini dari kipas elektrik di kamar. Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu.

Pernahkah kamu sendiri mengalami hal semacam ini? Pernahkah kamu menyiapkan teh, kopi, atau minuman lain; kemudian duduk pada kursi paling nyaman di ruang istirahatmu sebelum memutar lagu yang paling kamu sukai dari speaker, ponsel, atau perangkat audio lain di situ? Pernahkah kamu memejamkan matamu; mengizinkan tetes-tetes minumanmu, titik-titik sentuh pada kursimu, desir-desir aroma yang mampir di hidungmu, serta jengkal-jengkal melodi lagu itu membawamu menuju sublimitas yang seakan terus-terusan mencair dan membeku? Pada momen itu juga, lagu itu menjadi milikmu. Entitas pengkarya di baliknya seperti sedang bersembunyi sambil mungkin mengantisipasi reaksi macam apapun darimu atas buah pikiran dan perasaannya.

Dalam kesempatan ini, kami mengundangmu untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul kala mendengarkan lagu-lagu Frau. Pengalaman rasa apapun itu, entah senang, kalut, sedih, hingga kantuk, merupakan esensi dari suatu pertunjukan musik. Demikianlah, “Tentang Rasa” disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan kita jawab bersama di akhir pertunjukan nanti. Mari berbagi rasa.